Friday , April 27 2018
A huge collection of 3400+ free website templates JAR theme com WP themes and more at the biggest community-driven free web design site
Home / Dakwah / Seputar Zakat Profesi dan Cara Menghitungnya

Seputar Zakat Profesi dan Cara Menghitungnya

Zakat Profesi

Zakat adalah salah satu rukun Islam yang berarti mengeluarkan sebagian dari harta kita untuk orang-orang yang berhak menerimanya. Ada berbagai macam zakat yang ada dalam syariat, zakat mal, zakat fithri, dll.

Allah Ta’ala berfirman,

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka yang dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.” (QS. At-Taubah: 103)

Selain itu, ada pula zakat profesi yang belum pernah ada di zaman Rasulullah namun beberapa ulama berijtihad tentang disyariatkan mengeluarkan zakat ini.

Dalam Musyawarah Nasional Tarjih XXV tahun 2000 yang bertempat di Jakarta, menetapkan bahwa zakat profesi dihukumi wajib dengan ketentuan nishab setara dengan 85 gram emas 24 karat dan dengan kadar 2,5%. Hal ini dikarenakan zakat profesi diqiyaskan dengan zakat mal (harta).

Mengenai cara pengeluarannya, seperti yang telah dibahasa dan dimuat dalam Tanya-Jawab Agama jilid II cetak ke-3 halaman 157-159 dan jilid V halaman 92-95. Tim tarjih saat ini berpendapat bahwa pengeluaran zakat profesi ini setelah dikurangi dengan biaya hidup yang ma’ruf (layak) atau biaya kebutuhan yang benar-benar pokok atau primer. Sementara mengenai ukurannya disesuaikan dengan ‘urf di daerah masing-masing.

Hal ini seperti yang yang difirmankan oleh Allah:

وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ

Mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “yang lebih dari keperluan.” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir.“ (QS. Al-Baqarah: 219)

Ada juga sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Jabir, bahwa Rasulullah berkata kepada seorang laki-laki:

Berikanlah terlebih dahulu untuk kepentingan dirimu; bila lebih, maka untuk istrimu; bila masih lebih, maka untuk keluarga terdekatmu; bila masih lebih lagi, berikanlah untuk lain-lain.” (HR. Muslim)

Meskipun hadits di atas membahas perihal sedekah yang sifatnya sunna, namun secara umum hadits itu memberi petunjuk kepada kita tentang etika dalam berinfak, yaitu sesuatu yang diinfakkan itu adalah “sesuatu yang lebih”.

Penghitungan harta yang wajib dizakatkan berdasarkan pendapatan berih ini dimaksudkan agar seseorang itu tidak kekurangan kebutuhan utamanya atau supaya ia bisa membayar hutang bila ia memiliki hutang.

Karena diqiyaskan dengan zakat mal, maka disyaratkan adanya haul. Jadi, caranya dengan menghitung semulurh harta yang didapat dalam satu tahun, bila memang ada harta sisa yang mencapai nishab, maka orang tersebut wajib mengelurakan zakatnya.

Meski demikian, bisa juga dengan mempercepat pengeluran zakat, seperti dalam sebuah hadits yang dari sahabat Ali,

أَنَّ الْعَبَّاسَ بْنَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي تَعْجِيلِ صَدَقَتِهِ قَبْلَ أَنْ تَحِلَّ فَرَخَّصَ لَهُ فِي ذَلِكَ. [رَوَاهُ الْخَمْسَةُ إلاَّ النَّسَائِيّ]

“Bahwa Abbas bin Abdul Muthallib bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam menyegerakan (mempercepat) pengeluaran zakatnya sebelum datang waktu halalnya (satu tahun), lalu Nabi mengizinkan hal itu.” (HR. lima imam hadits kecuali an-Nasa’i)

Hadits ini ada komentar dari segi sanadnya menurut Asy-Syaukani dalam kitab Nailul Athar, namun kemudian dikuatkan oleh hadits lainnya yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam hadits dari Abu Rafi,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِعُمَرَ: إنَّا كُنَّا تَعَجَّلْنَا صَدَقَةَ مَالِ الْعَبَّاسِ عَامَ اْلأَوَّلِ.

“Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam berkata kepada Umar: Sesungguhnya kami telah mempercepat pengeluaran zakat harta Abbas pada tahun pertama.”

Jadi, seseorang yang mempunyai penghasilan tetap dan bisa diprediksi apabila dihitung untuk waktu satu tahun ke depan telah mencapai nishab, maka boleh mengeluarkan zakatnya pada saat mendapatkan penghasilan tersebut.

Contoh Penghitungan Zakat Profesi

Apabila masih bingung tentang cara menghitung dan mengeluarkannya, berikut kami paparkan berdasarkan sumber dari Tim Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid.

Gaji seorang pegawai sebuah perusahaan swasta nasional adalah Rp. 3.500.000 per bulan. Setelah dipotong biaya hidup sehari-hari seperti biaya dapur/makan, pendidikan, kesehatan, listrik, pembayaran hutang dan kebutuhan pokok lainnya ternyata masih tersisa Rp.1.850.000.

Jika dikalkulasi, dalam setahun ia mendapat Rp. 1.850.000 x 12 = Rp. 22.200.000. Nishab zakat profesi adalah setara harga 85 gr emas murni 24 karat. Jika harga emas murni 24 karat per gram adalah Rp. 250.000, maka nishab zakat profesi adalah Rp. 21.250.000.

Dengan demikian, gaji pegawai tersebut sudah mencapai nishab dan ia wajib mengeluarkan zakat sebesar 2,5 % x Rp. 1.850.000 = Rp. 46.250 jika dikeluarkan per bulan, atau 12 x 2,5 % x Rp. 1.850.000 = Rp. 555.000 jika dikeluarkan per tahun.

Bagi Anda yang ingin sudah memiliki penghasilan yang sampai nishabnya dan ingin menyalurkan zakat Anda, kami bisa membantu Anda.

Rek Zakat dan Infaq:
Bank Syariah Mandiri kode bank (451) no. rekening 7099074668
a.n LazisMu Piyungan
Kode transaksi (010)

Alamat kantor Lazismu Piyungan:
Jl. Jogja-Wonosari km 12, Payak, Srimulyo, Piyungan, Bantul, Yogyakarta

No. Tlp: (0274) 4353 449
Tlp/SMS/WA: 081 2299 6399

Check Also

Berkah diBulan Ramadhan

Oleh: Andy Putra Wijaya, M.S.I.* Ramadhan adalah bulan yang paling ditunggu-tunggu oleh umat Islam di …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *